Senin, 15 April 2013

Saat Tiada Kata

Saat ini adalah saat-saat kritis aku disini, benar-benar sakit kronis. Aku tak tahu dapatkah sembuh atau bakalan cepat mati, ini teka-teki yang Tuhan berikan, agar ku dapat mengerjakannya, banyak petunjuk yang tersembunyi sebenarnya, sehingga aku lelah ataupun malas mencarinya. Namun aku tak sampai hati berdiam diri, walaupun melangkah di depan banyak duri dan pedang panjang menghadang, aku tetap melangkah maju, bahkan mereka menyuruhku lari. 
"hidup ini kejam" begitu aku sering dengar dalam berita atau film, namun kini aku merasakannya. Setelah lama aku dinina bobokan oleh suasana dan lingkungan yang sangat teramat nyaman. Kini lingkungan disini bagaikan cambuk yang dengan gagah beraninya siap memecutku dengan tegas dan keras tanpa ampun. Tiada jeda yang mereka berikan, karna sedikit jeda akan dibayar dengan seribu kerja keras disini. 
Tuhan, aku bingung karena kadang aku hilang arah, banyak kekecewaan dan kegamangan yang menyambangi. Tuhan kadang aku ingin bertanya, banyak hal pertama Tuhan, kenapa aku disini?, untuk apa aku disini Tuhan? dan buat siapa  aku disini? kadangpertanyaan pertanyaan ini muncul saat aku tak tahu siapa aku. Namun semua pertanyaan tersebut aku sudah menemukan jawabannya Tuhan. Namun ada satu pertanyaan yang kadang tiada jawabannya atau aku tak tahu apa jawabnya, sebenarnya dunia baru apa Tuhan yang kau perkenalkan dengan ku ini? 

Setiap kata terdengar sumbang tak bernada, 
Setiap langkah selalu salah arah,
Setiap pola pikir dianggap tak bernorma,
  Kadang letih menghampiri, 
  Berjuta alasan untuk mundur pun masuk akal, 
  Setiap nafas tak berharga,
  Setiap peluh hanyalah bah,
Disini sepi setia menemani,
Disini kehampaan kadang menyapa,
Disini kesedihan bak kawan sejati, 
Disini kadang merasa tak berarti,

Mereka mungkin akan menertawakanku, ya itu yang ku rasakan saat ku bercerita pada sang peri, mulai saat itu tiada ku bagi peluh ini kepada yang lain, akan ku bagi melaui caraku seperti ini, sehingga tak sakit hati apabila ada yang dengan senang hati menertawakanku.

Mungkin disini aku temukan sosok malaikat juga, yang membuatku belajar banyak hal namun aku dianggap tak kuasa melakukan semuanya, dianggap terlalu lemah dan manja. Mungkin benar sosok gadis kecil yang mengganggu melekat dalam jiwaku, namun itu dulu. Saat ini melangkah pada fase yang lebih dewasa, namun bagaimana bisa? jika mereka selalu memandang sebelah mata. Meminta pengakuan dari orang lain bukanlah hal yang baik tentunya, ya aku tahu, tapi ini sudah keterlaluan, karena baru pertama kali ini sih merasakan hal yang nggak masuk diakal namun itu benar.

Munggkin saat ini posisi ku adalah posisi temanku dulu yang sangat parah dan tau apa-apa tentang dunia Y, namun aku mengajarinya hingga kini ia menjadi wanita sesungguhnya, memang susah menanamkan main set orang terhadap main set kita sendiri. Namun melihat orang itu sukses karna kita ada kebanggaan tersendiri, walaupun tak mendapatkan apapun dari orang tersebut.

But I say Thank U for my Angel here, FA. I"l try my best till the end, till i get it. 

Something New

kadang menjadi pribadi yang sabar dan ikhklas itu tak semudah apa yang kita pikirkan, kadang ada rencana-rencana yang tersusun rapi hilang dan hancur begitu saja. Karna tiada kuasa ku disini, hanya bisa mengalah dan bilang ya. Oh God Help me, make me Happy every second here.  Banyak pengorbanan yang ku lakukan untuk berada disini. Mungkin hanya bisa bicara ya ini pilihanku, lalu apa salahnya aku terima dengan lapang dada dan Ikhlas. ya jahat memang tapi apa boleh buat, smua orang taw bahwa satu makhluk itu jahat, tak cuma aku saja yang membaca demikian. Misal saja iblis atau setan ada yang bilang iblis itu baik? 1001 kan yang ada, namun biarlah semua ini ku terima dengan iklas. tiada salahnya menjadi pribadi yang mengalah untuk kemenagan suatu saat nanti, biarlah saat ini aku dibilang bodoh demi pandai di kemudian  hari.

Aku nothing saat ini, like trash maybe. But i'll be something sometimes. Atas ridho dan ijin Tuhan aku percaya tiada kesia-siaan dalam perjalanan ini, yang ada adalah hikmah yang dipelajari dalam hidup ini. Tuhan mempertemukan aku dengan orang jahat ini tidak berarti Tuhan itu tidak adil, namun Tuhan memberikanku gambaran dan contoh, sepertinya Tuhan berbicara "Ara aku pertemukanmu dengan orang sejahat x di tempat barumu, agar kau belajar. Ini lah orang yang jahat yang Aku ciptakan untuk kau pelajari bagaimana seharusnya kau bersikap, jika jahat jauhilah sikapnya. Bahkan tak hanya kau saja yang ku perlihatkan kejahatannya semua temannya, jadi kau tak sendiri Ara." Ya seolah-olah Tuhan menyapaku demikian, aku sadar ini sebuah pelajaran besar yang tak semua orang dapat menemuanya.

Sabtu, 23 Juni 2012

SAAT POHON TAK MAMPU BERKEMBANG


Biarakan sebuah asa yang pernah ada menguap terbawa udara yang tak tahu entah kemana kan berujung,  aku tak pernah meminta balas atas sebuah rasa. Namun aku sangat menghargai rasa yang kuberikan kepadanya. Ini hanya masalah waktu entah masalah kedewasaan yang  belum terpecahkan dalam realita.
Awal kisah saat aku jumpa seonggok pohon nan rapuh, namun bukan pohon tua yang layu, ini pohon muda tanggung tak terlalu besar batangnya, sedang nampak sederhana. Pohon ini banyak cabang, dedaunan hijau mengelilingnya namun, pohon ini layu tak sumringah seperti pohon-pohon lainya. Ia selalu takut untuk tumbuh padahal cabangnya bisa setinggi langit kalau mau, namun hanya impian ia punya, sedang untuk tumbuh ia takut.
Suatu aku hari aku bertanya “pohon kenapa engkau tak ingin mengembangkan badanmu, dan kau hanya meringkuk dalam impian?” pohon pun bercerita, aku ingin kembangkan cabang ku ke Barat namun pagar sebelah nampak rapuh aku takut menghancurkanya, aku ingin kembangkan cabangku ke Utara namun pohon pisang nampak lemah disana aku takut menusuknya, aku ingin kembangkan cabangku ke Timur namun Matahari begitu nampak dekat aku takut terbakar, aku ingin kembangkan cabangku ke Selatan namun aku takut tenggelam kabarnya disana banyak lautan, aku ingin kembangkan akarku ke bawah namun ku dengar cacing menggertak kelaparan aku takut mereka melukaiku, aku ingin kibarkan daunku ke atas namun aku takut angin bertiup kencang hingga daunku jatuh berhamburan.
Pohon ini hidupmu kau berhak untuk bahagia, mendapatkan apa yang kau mau dan kau impikan. Iya aku paham manusia, namun aku punya duniaku, aku tak mau dirugikan gara-gara aku berkembang, aku takut terluka. “Apakah kau senang dengan hidupmu saat ini pohon?” tanyaku mengiba, sejujurnya tidak, aku kesepian, aku butuh sentuhan, siraman dan sinar. Lalu kenapa kau masih membelenggu dirimu dalam ketakutan?, “karena aku mempunyai duniaku yang orang lain takkan mengerti siapa aku” jawab pohon datar.
Aku lelah berharap bahwa pohon akan berubah demi indahnya dirinya sendiri, demi kesenangannya sendiri. Namun ia memilih membelenggu dirinya dengan ketakutan, kecurigaan dan prasangka-prasangka. Hanya dirinya sendiri yang paham akan dunianya, ia tak memperbolehkan orang lain masuk dalam dunianya, hanya ada dia dan dirinya.
“Ikan pun takkan menunggu di sungai yang kering,
 dan monyet takkan menunggu pisang yang layu,
musang juga takkan menunggu pohon yang tak tumbuh


Syafira , dalam heningnya perenungan.

Jumat, 30 Desember 2011

Curahan di Akhir Tahun, Arti Sebuah Keikhlasan...

"kau pikir aku ada di sini untuk apa
kau kira sejauh ini ku datang untuk siapa
kau rasa kulakukan apapun untuk siapa
sangat ingin ku katakan ini untukmu
untukmu, untukmu, ini untukmu"

Sepenggal  lirik lagu Shanti feat Donee yang berjudul Untuk Siapa ini, adalah salah satu lagu favorit aku. Ya, untuk siapa aku disini, selalu menjadi alasan untuk ku melakukan suatu tindakan. Bukan hal yang benar, tentu itu sikap yang sangat tidak dewasa. Ya itulah aku saat itu, selalu mencari alasan bodoh dalam melakukan sesuatu.

Hafalan Shalat Delisa, sebuah Film yang diangkat dari novel berjudul sama, karya penulis bernama Tere Liye. Sutradara Sony Gaokasak mengerjakannya berdasarkan skrip yang ditulis Armantono. Delisa (Chantiq Schagerl) tinggal di sebuah rumah panggung tepi pantai. Hari-harinya diisi dengan bermain bola bersama anak-anak cowok, dan bercengkerama dengan ibu, yang dipanggilnya ummi (Nirina Zubir) dan tiga kakaknya yang semuanya perempuan.

Ya, begitulah kira-kira gambaran awal cerita film Hafalan Shalat Delisa, namun tulisan ini bukan tentang film diatas, namun dari salah satu aspek yang ada dalam film ini, yaitu IKHLAS. Kedengarnya sangat mudah diucapkan namun tak smua orang dapat melakukanya dengan sempurna.

“Uztad kenapa ya dalam melakukan sesuatu kadang terasa sulit?” tanya Delisa dalam sebuah adegan dalam film, “karna terkadang kita melakukannya tidak iklas, atau kita melakukannya karna ada hadiahnya” begitulah kira-kira sang uztad menjawabnya. Mungkin teman-teman kurang paham apabila belum menonton filmnya, namun tulisan ini sekali lagi bukan tentang filmnya namun apa arti ikhlas itu sendiri. Dari situlah aku mulai tersadar betapa pentingnya kita melakukan sesuatu harus berdasarkan rasa ikhlas.

Waktu-waktu yang tlah ku jalani banyak hal yang aku lewati tanpa mengenal ikhlas, sungguh terlalu bodoh saat itu. Misal saja dalam kuliah aku kadang memandang dosen yang mengampu mata kuliah, jika dosen itu enak menurut subjektif kita maka pasti akan mengambil dosen itu berturut-turut pada mata kuliah yang beliau ampu, juga begitu sebaliknya, jika menurut kita dosen itu tidak enak dalam mengajar maka kita tidak memilihnya. Ironi memang, bukan karna mata kuliah apa yang harusnya kita prioritaskan namun dosen mana yang menjadi prioritas kita.

Dalam bergaul juga ada sisi dimana kita merasa nyaman satu sama lain. Maka kadang ada beberapa orang yang sangat selektif dalam bergaul dan memilih teman, namun itu bukan aku kawan. Dalam organisasi kita ditutut loyalitasnya namun tak semua anggota organisasi melakukanya. Ketidak ikhlasanku dalam organisasi bermula dengan kedekatanku dengan salah satu anggota disana, aku mau datang rapat kalau dia datang, berusaha melakukan yang terbaik agar nampak sempurna dimatanya, hahaha bodoh sekali kan dan akhirnya dia sekarang bersanding disisi wanita lain.

Beberapa saat yang lalu Tuhan menunjukan akibat dari ketidak ikhlasanku yang lain. Pertama, hal ini terjadi dimana aku sering nge-gym, aku kenal seseorang sebut saja S, nah karna seringnya aku melihat si S di sana maka muncullah kekagumanku terhadapnya, jadi niatan awalku nge-gym buat bentuk badan berubah karna ada si S aku sering datang. Dan akhirnya rajinlah aku nge-gym, namun selang waktu berjalan malah sebaliknya dia yang jarang kelihatan entah apa sebabnya. Otomatis aku sangat kecewa kawan, namun aku tetap datang rutin ke gym  walaupun tanpa melihatnya. Suatu sore saat aku memasuki ruang gym munculah si S menaiki tangga, aku lumayan terkejut dengan keberadaanya, dalam hati terasa ingin meloncat-loncat, namun hal itu hanya berlangsung sebentar, entah apa sebabnya semua itu terasa hambar, berbeda seperti saat pertama kali aku mengenalnya semua terasa menyenangkan dan berbunga-bunga.

Kedua, adalah saat aku mengikuti sebuah kursus. Alasan aku mengikutinya karna ajakan teman dan kebetulan ada kakak angkatan yang nampaknya sukses dalam mengikutinya. Hal ini tak jauh berbeda dengan hal diatas, saat aku dekat dengan temanku itu aku slalu berangkat bersamanya namun saat dia pergi, semangatku untuk berangkatpun menurun sehingga berakibatlah pada turunnya nilaiku, sehingga membuatku tidak lulus pada level kedua, namun bisa dibilang berkah akibat ketidak lulusanku, aku mengenal orang baru disana.

Singkat cerita aku mulai kagum terhdapnya, kekagumanku bukan karna aku benar-benar mengaguminya soalnya secara tipe dia bukan tipeku, sebut saja D. Sikap D lah yang membuat aku kagum padanya, ya D selalu membuat aku tertawa, jadi apa salahnya aku mengaguminya, ya hanya sekedar mengagumi, tak berani lebih. Karna D lah aku menjadi semangat lagi berangkat kursus, sepeninggalan temanku. Namun suatu saat D pun tak kunjung muncul sehingga kadang aku kecewa kalau aku berangkat tak ada D. Ya baru sampai disitu aku ditunjukkan Tuhan tentang ilmu ikhlas ini terhadap kehadiran sosok D dalam kehidupanku. Sampai aku menonton Film Hafalan Shalat Delisa, aku pun sadar sikapku terhadap kurusku karna D adalah hal yang salah.

Seharusnya aku tak melakukan hal diatas karna “dia” (faktor alasan subjektif) yang menimbulkan rasa ketidak ikhlasan timbul. Sungguh mennyesal aku melakukanya. Namun apa arti sebuah penyesalan tanpa perbaikan. Nah, kini waktuku untuk memperbaiki kesalahanku yang dimana telah terjadi pantas untuk menjadi pelajaran kedepannya agar lebih ikhlas dalam melakukan sesuatu. Bukan karna,
“dia,
dia bisa datang menemani,
dia bisa membuat kita nyaman,
dia bisa membuat kita senang dan terbang,
dia mungkin bisa membantu menggapai impian kita,
namun,
dia juga bisa pergi,
dia bisa lari jauh tak kan kembali,
dia juga bisa mati,
dia bisa menhancurkan kita sewaktu-waktu,
dia juga bisa membuat kita kecewa,
jadi,
kenapa harus dia, jika kita bisa tanpanya,
kenapa harus dia, jika ujungnya hanya fatamorgana
dia, hanya faktor faktor alasan subjektif yang tak berlogika,
dia, hanya fatamorgana,
bukan kepastian, “

Lalu akankah kita mengulangi kesalahan yang sama? Berubahlah kawan sebelum kecewa, lakukan segala sesuatu dengan ikhlas tanpa pamrih, jika melakukan hal yang baik lakukanlah tanpa harus dipertunjukkan kepada orang lain bahwa kita orang baik. Toh orang akan menilai kita dengan sendirinya tanpa kita harus berpura-pura menjadi orang lain, semua akan nampak pada akhirnya kawan.
Kawan-kawanku tersayang marilah bersama-sama berubah, memperbaiki yang telah salah, menjadi lebih baik dan  belajar ilmu ikhlas. Bukan untuk orang lain, namun utuk diri kita sendiri.

Tiada sesuatu yang tepat untuk membayar sebuah kekecewaan kecuali iklas.


Ara Syafira, renungan akhir tahun, disudut kota.

Sabtu, 08 Oktober 2011

NIRWATI

Ny. Nirwati anda feminis sejati, pengembara ulung dan wanita berkarakter tegas. Anda adalah orang terpenting dalam hidup ku setelah ibu kandung ku. 


      Bahkan guraian air mata tak pernah keluar karena usang dimakan jaman, sampai-sampai tak mampu lagi mengisahkan babak demi babak kehidupanmu. Luka masa lalu masih terus kau rekam, barangkali memang tak akan pernah hilang, dan aku menjadi salah seorang yang tahu pahitnya takdirmu. Baik, sekarang ijinkan aku bercerita tentang dirimu. Setidak-tidaknya akan meringankan bebanmu, Ny. Nirwati. 

*** 

Perempuan tua itu duduk di kursi jati panjang warna hitam. Sorot matanya tajam, dahinya berkerut. Saat aku temui tadi pagi, ia hanya menyambut seadanya. Nirwati, begitu ia biasa disapa. Paling tidak nama ini yang ia inginkan, karena kadang orang-orang suka memanggil Nirwati semaunya sendiri. 

     Nirwati lahir 62 tahun lalu, tepatnya kapan ia sendiri sudah lupa. Nirwati besar di kalangan priyayi. Ayahnya, Basri adalah seorang Lurah dan Jamilah ibunya merupakan pengusaha batik terkenal pada masa itu. Ia anak kedua dan satu-satunya perempuan buah perkawinan pertama ibunya. Kakak dan adik Nirwati seluruhnya laki-laki. Saat Nirwati berusia tiga tahun ayahnya meninggal. Lalu ibunya menikah lagi dengan pria Sumatera bernama Karno. Hasil perkawinan ini membikin Nirwati punya dua adik tiri perempuan. Kehadiran Nirwati kecil adalah sebuah anugerah yang tak disangka-sangka. Saat dalam kandungan Nirwati hampir saja tidak hadir dalam dunia, karena Ibunya hampir keguguran. Namun Tuhan berkata lain, Tuhan memberi kesehatan kepada Ibunya setelah berbulan-bulan dirawat di RS dan muncullah Nirwati ke dunia. 

        Dalam pendidikan Nirwati kecil tersendat, kematian ayahnya yang menjadi alasan. Sepeninggalan ayahnya bisnis keluarga carut marut dan akhirnya bangkrut. Ibunya sakit-sakitan dan hampir terserang stroke. Kakaknya tak mau peduli keadaan keluarga bahkan malah tega menjual perabotan rumah untuk foya-foya, sedangkan adiknya masih kecil dan tak tau apa-apa. Nirwati hanya tamat sekolah dasar ia tak meneruskan pendidikannya, ia mulai sibuk mengurusi urusan keluarga.

*** 

       Nirwati tumbuh sebagai gadis remaja yang cantik rupawan, berkarakter dan mempunyai prinsip dalam menjalani hidup. Layaknya kebanyakan remaja, ia bergaul dengan siapa saja. Ia pun aktif membantu kegiatan remaja di desanya. Salah satunya, Nirwati pernah bergabung di sebuah sanggar tari ternama di daerah asalnya. Namun tiada cita-cita untuk menjadi penari. Hanya mengisi waktu luang saja. Nirwati juga bekerja sebagai penyetor kain batik di Pasar Beringharjo. Kebetulan pelanggannya adalah kolega-kolega lama ibunya saat bisnis keluarga masih lancarl. Makanya, terhitung mudah untuk urusan bayar-membayar. 

***

           Kisah cinta Nirwati adalah bagian antara kebahagian dan kesedihannya. Saat remajanya ia pernah dilamar seorang Mandor pabrik gula yang umurnya jauh diatasnya, jelas ia menolak namun ibunya memaksa karena alasan Mandor itu adalah orang terhormat dan dari kalangan priyayi, namun Nirwati tetap menolak. Ia akhirnya memutuskan meninggalkan rumah dan berkelana dengan modal seadanya. 

        Pasca kabur dari rumah ia berdomisili sementara di daerah Wonosobo dengan profesi yang masih sama namun sasarannya adalah pasar Wonosobo. Lambat laun kehidupannya berjalan seperti biasa. Masuk tahu ke-3 ia menemukan seseorang yang menurutnya pas untuk dijadikan suami. Menikahlah mereka dan Nirwati berniat mengenalkan pada Ibu dan keluarganya diJogja. Namun ternyata ibunya kurang setuju dengan keputusannya, selain itu jelas karena alasan bobot, bebet, bibit. Ya, kebanyakan orang jawa kadang itu yang menjadi kriteria. Tak selang bebrapa lama hubungan pernikahan mereka tak harmonis dan akhirnya bercerai.

         Tak lama dari perceraiannya ia menemukan pria yang mencintainya dan menerima ia apa adanya. Panggil saja pria ini Rusno. Selang beberapa tahun mereka akhirnya menikah. Dalam pernikahan kedua Nirwati semua cerita menjadi berubah sedih, sejak pernikahannya ini yang ada hanyalah duka dan amarah. Suami yang ia sayangi adalah iblis baginya, KDRT, perselingkuhan, tak ternafkahi dan yang paling jahat adalah pemanfaatan. Rusno tahu Nirwati sebenarnya anak orang berada maka ia selalu dan selau meminta uang untuk berfoya-foya. Sedangkan dengan kesetaiaan dan kesabaran Nirwati hanya diam dan berdoa. 

 ***
          Kini Nirwati sudah lanjut usia, masih dengan suami yang sama dan beranakan satu perempuan. Ia tak lagi ambil pusing masalah suaminya, baginya yang terpenting kini adalah anaknya. Anak satu-satunya, jantung hatinya. Satu-satunya alasan mengapa ia masih tegar dan bertahan sampai saat ini. Anaknya kini sedang menempuh bangku kuliah disalah satu perguruan tinggi negeri di Jogja. Mengambil jurusan sosial, harapannya anak tersebut dapat mengobati sakitnya terhadap ketidakadilan yang selama ini ia rasakan. 
          Ny. Nirwati, kau adalah salah satu motivator dalam hidup ku. Ketegaran, prinsip, dan kesabaran dalah identitas mutlak anda dan masih banyak hal-hal positif yang aku dapat dari anda. Sayang anda bukan orang ternama, bukan penulis, bukan politisi, bukan artis atau pelukis. Anda adalah ibu rumah tangga yang sangat menyayangi anaknya dan rela melakukan apa saja walau kadang harus mengorbankan sedikit harga diri anda. Anda terlalu baik sehingga orang lain kadang hanya memanfaatkan kebaikan anda.

Jumat, 06 Mei 2011

mengenang lentera hati

Lama tak mengenangmu sang lentera hati, apa kabarmu hari ini?
Sosokmu tak mungkin pergi dalam benakku, sosokmu tetap di kalbu.
Walau tak mungkin lagi ku miliki, tak jenuh aku mengenangmu.
Lentera hati kaulah cahaya dalam kalbuku walau kini tlah redup.
***
Mungkin kau masih kecewa, atau bahkan sudah kau hapus semua kenangan indah kita. Tapi kini ku tepati janjiku padamu, itu alasanku kenapa masih sendiri. Apakah kau juga akan tepati janjimu padaku?
Lentera hati aku lama tak melihat senyumu, senyum yang sama selama dua setengah tahun ini. Dan kini tak ada senyum itu lagi untukku.
Dirimu terlalu angkuh saat ini seperti tak mau mengenalku lagi. Apakah ada salah yang tak bisa kau maafkan hingga kau tak mau tersenyum lagi padaku?
Lentera hati….. ingatkah masa-masa dimana kita selalu bersama… menyambut pagi dan menghantarkan senja. Saat hujan turun dan kau nampak kedinginan, aku masih disisimu. Saat kita berdua di depan kelas dimana kampus masih sepi dan kita belajar bersama. Saat kita janjian bertemu pukul sebelas di ruang baca dan teman-temanku mengusik kita. Saat kita selalu pulang kuliah bersama. Saat pertama kali kita bertemu kau menghantarkan ku pulang setelah buka puasa bersama. Saat kau selalu mengirim pesan kepadaku dan kau katakan alasanmu masih sendiri. Saat kau duduk dihadapanku dan kau mengatakan vegetarian adalah orang terbodoh sedunia, dan kau sudah merusak pola dietku saat itu. Saat aku tahu akulah orang pertama yang kau sms setiba kau di Yogya sedari kau pergi jauh. Saat kau marah waktu aku menayakan tentang nikah siri dan menanyakan apakah aku akan menikah siri? (apa maksudmu). Saat kau cemburu waktu ku menanyakan temanmu, dank au bilang kamu suka ya ama dia?( sebenarnya ingin ku jawab “tidak, aku hanya suka kamu”). Saat aku harus sendiri dan menantimu.
Dan masih banyak saat-saat manis antara kita yang tak dapat kutuliskan. Aku hanya ingin menyimpanya untukmu.

***
Lentera hati, aku tak mengerti dirimu saat ini. Apakah menjalin “hubungan” dengan lawan jenis menurutmu tabu? Entah prinsip hidupmu memang begini? Atau ada alasan yang lain yang tak ku mengerti? Mengapa kau berubah padaku?
Alasanku masih sendiri saat ini ku rasa kau tahu. Semoga kau menepati janji diakhir kisah ini.

Sabtu, 05 Maret 2011

Sampah Di April lalu

SALAH ………………
Hidup ini memang sangat mudah, sangat mudah menyalahkan orang , sangat mudah bilang aku yang palinng benar…………………
Hidup ini terlalu sulit, sulit memahami orang, sulit meminta maaf, sulit mengaku saya bersalah, sulit melihat mana realita mana fatamorgana…………
Hidup ini sangat gampang, sangat gampang untuk berkata tidak namun tak pedulikan perasaan yang lain, sangat gampang mencari musuh, sangat gampang mengucap benci, dan sangat gampang untuk menfitnah………..
Ternyata hidup ini juga susah, susah membedakan mana kawan mana lawan, susah melihat kejujuran, susah melihat kebaikan yang sebenarnya……….
Ya, hidup ini memang seperti ini, susah dan mudah ada pada diri kita sendiri……….…. Banyak alasan untuk membuat orang menangis, namun sedikit alasan untuk nenerima kenyataan. Menagis bukan kesalahan, namun juga bukan alasan pembenar untuk dibela, menangis adalah pilihan, ada waktu untuk menahan air mata untuk tidak meneteskannya, namun kadang kehilangn kendali sehingga air mata mau tak mau harus menetes…………………….…….
Ini bukan kisah cinta yang merah jambu atau abu-abu, tapi ini tentang aku, ku tak mengharapkan kalian membaca ini, aku hanya curhat pada kertas elektronik yang tak perlu komentar aku benar atau salah……….
SALAH………………….ya salah. Seperti momok yang melekat dalam hidupku akhir-akhir ini, hampir semua hal yang ku lakukan semaksimal mungkinpun tetap saja SALAH…………
Benar-benar sangat menyenangkan bercumbu dengan harumnya luka yang semerbak wanginya dalam sudut hatiku ini……
Jiwaku bagaikan bayangan , ada dan tiadanya aku tak ada artinya…..Pertanyaan, perhatian, bagaikan episode yang terancang indah dalam drama hidupku…………..
Akting-akting ini membuat aku muak menginjakkan kakiku disana……Haruskah aku slalu disini? Di sudut kota, dimana sedikit damai kurasa……
Ku tak pernah salahkan pertemuan kita, maupun perkenalan kita, walau banyak yang membenciku karna ketidak sempurnaanku atau pergi meninggalkanku karna ketidak sempurnaan ini…… aku tetap di sini, untuk kalian yang diturunkan di dunia untuk menjadi malaikat-malaikatku, yang masih menerima dan tidak meninggalkanku dalam ketidaksempurnaan ini, kalian yang slalu ada untukku, kalian bukan penyindir jahanam, namun penasehat yang mulia, kalian bukan pengambil semangat, namun penambah semangat dan energi positifku……………… terimakasih kalian yang masih mencintaiku walaupun aku begini bukan karena aku seperti itu…………. Penghormatan tertinggi untuk jiwa-jiwa mulia kalian setelah Tuhanku………… kalianlah alasan aku masih disini…………………
Apakah aku tampak pucat pagi ini????
Jangan tanyakan aku sakit atau tidak? Aku sudah biasa dengan hal ini akhir-akhir ini, aku tahu bagaimana aku harus bersikap, benar atau salah aku tak mengerti, karna ku melangkah dalam gelap ini……
Aku percaya masalah yang menggunung ini adalah karunia Tuhan untukku, agar derajat ku dapat naik ke level yang lebih tinggi. A……………mien………
Biarkan ku menikmati betapa nikmatnya menghadapi hidangan masalah ini, agar dapat kulahap dan ku cerna satu per satu…….. biarlah hanya aku yang tahu semua ini………..
Aku tak harap harus mengerti aku, aku juga tak harap untuk membantu menyelesaikan masalahku satu persatu, sebenarnya aku hanya minta waktu, untuk menentukan mana yang harus ku lahap terkebih dahulu, waktu untuk berfikir agar tiada yang tersakiti……….. namun ku dipaksa menelan pil pahit ini, lalu banyak yang terluka karna aku tak mampu memilih lagi……….. Ya banyak yang terluka karna ini, lalu bagaimana aku? Tahukah rasa pil pahit ini????? Ternyata sungguh nikmat…………. Anggap saja aku baik-baik saja……… toh aku masi hidup, tertawa, makan, minum dan melakukan kegiatan yang sama seperti yang baik-baik saja…………. Bagaimana dengan perasaan dan hatiku? Oooo…………………. Ternyata aku masih punya rasa dan hati, bagaimana? Tak ada yang kan tanyakan itu, itu bukan cerita menarik dalam kisah ini, atau hanya kan mendengar omong kosong lagi ? komentar …………?
Sebenarnya kisah ini tak layak untuk konsumsi umum, namun ku hanya ingin mengungkap dibalik ke GeJean aku, aku sungguh tak membenci siapapun, karna hidupku untuk mengasihi, aku orang yang bertanggung jawab(tahukah aku pergi? Bukan lari dari masalah, tapi ku menyelesaikan masalah lain? Bukan main atau bersenang-senang, aku berpikir, aku slalu melakukan hal dengan maksimal, salahkan aku dan katakalah padaku jika ku salah secara langsung padaku, karna saat ini itulah peranku, menjadi yang salah), aku tak marah karna kedamaian yang sedang ku cari…………
Aku diam bukan ku tak mau bicara, tapi ku merangkai kata agar tiada yang terluka, iya aku salah, jika ada kata selain kata maaf yang dapat ku ucap akan ku ucapkan. Baiklah aku kan berusaha menjadi seperti yang kalian mau, menuruti keinginan-keinginan kalian, aku akan berusaha agar kalian bahagia dan tak menangis lagi, namun maaf jika ku tak memenuhi standar kalian, karena kemampuanku seperti ini, ingat…… aku akan melakukan semaksimal mungkin……..
Berbahagialah kalian semua yang ku kenal………… sesungguhnya aku bukan orang yang pemarah ataupun sensitife, jika kalian benar-benar mengenalku……………



Ara Dilanda Lara (senja diakhir April, dalam keheningan sudut kota)