Sabtu, 08 Oktober 2011

NIRWATI

Ny. Nirwati anda feminis sejati, pengembara ulung dan wanita berkarakter tegas. Anda adalah orang terpenting dalam hidup ku setelah ibu kandung ku. 


      Bahkan guraian air mata tak pernah keluar karena usang dimakan jaman, sampai-sampai tak mampu lagi mengisahkan babak demi babak kehidupanmu. Luka masa lalu masih terus kau rekam, barangkali memang tak akan pernah hilang, dan aku menjadi salah seorang yang tahu pahitnya takdirmu. Baik, sekarang ijinkan aku bercerita tentang dirimu. Setidak-tidaknya akan meringankan bebanmu, Ny. Nirwati. 

*** 

Perempuan tua itu duduk di kursi jati panjang warna hitam. Sorot matanya tajam, dahinya berkerut. Saat aku temui tadi pagi, ia hanya menyambut seadanya. Nirwati, begitu ia biasa disapa. Paling tidak nama ini yang ia inginkan, karena kadang orang-orang suka memanggil Nirwati semaunya sendiri. 

     Nirwati lahir 62 tahun lalu, tepatnya kapan ia sendiri sudah lupa. Nirwati besar di kalangan priyayi. Ayahnya, Basri adalah seorang Lurah dan Jamilah ibunya merupakan pengusaha batik terkenal pada masa itu. Ia anak kedua dan satu-satunya perempuan buah perkawinan pertama ibunya. Kakak dan adik Nirwati seluruhnya laki-laki. Saat Nirwati berusia tiga tahun ayahnya meninggal. Lalu ibunya menikah lagi dengan pria Sumatera bernama Karno. Hasil perkawinan ini membikin Nirwati punya dua adik tiri perempuan. Kehadiran Nirwati kecil adalah sebuah anugerah yang tak disangka-sangka. Saat dalam kandungan Nirwati hampir saja tidak hadir dalam dunia, karena Ibunya hampir keguguran. Namun Tuhan berkata lain, Tuhan memberi kesehatan kepada Ibunya setelah berbulan-bulan dirawat di RS dan muncullah Nirwati ke dunia. 

        Dalam pendidikan Nirwati kecil tersendat, kematian ayahnya yang menjadi alasan. Sepeninggalan ayahnya bisnis keluarga carut marut dan akhirnya bangkrut. Ibunya sakit-sakitan dan hampir terserang stroke. Kakaknya tak mau peduli keadaan keluarga bahkan malah tega menjual perabotan rumah untuk foya-foya, sedangkan adiknya masih kecil dan tak tau apa-apa. Nirwati hanya tamat sekolah dasar ia tak meneruskan pendidikannya, ia mulai sibuk mengurusi urusan keluarga.

*** 

       Nirwati tumbuh sebagai gadis remaja yang cantik rupawan, berkarakter dan mempunyai prinsip dalam menjalani hidup. Layaknya kebanyakan remaja, ia bergaul dengan siapa saja. Ia pun aktif membantu kegiatan remaja di desanya. Salah satunya, Nirwati pernah bergabung di sebuah sanggar tari ternama di daerah asalnya. Namun tiada cita-cita untuk menjadi penari. Hanya mengisi waktu luang saja. Nirwati juga bekerja sebagai penyetor kain batik di Pasar Beringharjo. Kebetulan pelanggannya adalah kolega-kolega lama ibunya saat bisnis keluarga masih lancarl. Makanya, terhitung mudah untuk urusan bayar-membayar. 

***

           Kisah cinta Nirwati adalah bagian antara kebahagian dan kesedihannya. Saat remajanya ia pernah dilamar seorang Mandor pabrik gula yang umurnya jauh diatasnya, jelas ia menolak namun ibunya memaksa karena alasan Mandor itu adalah orang terhormat dan dari kalangan priyayi, namun Nirwati tetap menolak. Ia akhirnya memutuskan meninggalkan rumah dan berkelana dengan modal seadanya. 

        Pasca kabur dari rumah ia berdomisili sementara di daerah Wonosobo dengan profesi yang masih sama namun sasarannya adalah pasar Wonosobo. Lambat laun kehidupannya berjalan seperti biasa. Masuk tahu ke-3 ia menemukan seseorang yang menurutnya pas untuk dijadikan suami. Menikahlah mereka dan Nirwati berniat mengenalkan pada Ibu dan keluarganya diJogja. Namun ternyata ibunya kurang setuju dengan keputusannya, selain itu jelas karena alasan bobot, bebet, bibit. Ya, kebanyakan orang jawa kadang itu yang menjadi kriteria. Tak selang bebrapa lama hubungan pernikahan mereka tak harmonis dan akhirnya bercerai.

         Tak lama dari perceraiannya ia menemukan pria yang mencintainya dan menerima ia apa adanya. Panggil saja pria ini Rusno. Selang beberapa tahun mereka akhirnya menikah. Dalam pernikahan kedua Nirwati semua cerita menjadi berubah sedih, sejak pernikahannya ini yang ada hanyalah duka dan amarah. Suami yang ia sayangi adalah iblis baginya, KDRT, perselingkuhan, tak ternafkahi dan yang paling jahat adalah pemanfaatan. Rusno tahu Nirwati sebenarnya anak orang berada maka ia selalu dan selau meminta uang untuk berfoya-foya. Sedangkan dengan kesetaiaan dan kesabaran Nirwati hanya diam dan berdoa. 

 ***
          Kini Nirwati sudah lanjut usia, masih dengan suami yang sama dan beranakan satu perempuan. Ia tak lagi ambil pusing masalah suaminya, baginya yang terpenting kini adalah anaknya. Anak satu-satunya, jantung hatinya. Satu-satunya alasan mengapa ia masih tegar dan bertahan sampai saat ini. Anaknya kini sedang menempuh bangku kuliah disalah satu perguruan tinggi negeri di Jogja. Mengambil jurusan sosial, harapannya anak tersebut dapat mengobati sakitnya terhadap ketidakadilan yang selama ini ia rasakan. 
          Ny. Nirwati, kau adalah salah satu motivator dalam hidup ku. Ketegaran, prinsip, dan kesabaran dalah identitas mutlak anda dan masih banyak hal-hal positif yang aku dapat dari anda. Sayang anda bukan orang ternama, bukan penulis, bukan politisi, bukan artis atau pelukis. Anda adalah ibu rumah tangga yang sangat menyayangi anaknya dan rela melakukan apa saja walau kadang harus mengorbankan sedikit harga diri anda. Anda terlalu baik sehingga orang lain kadang hanya memanfaatkan kebaikan anda.