Jumat, 30 Desember 2011

Curahan di Akhir Tahun, Arti Sebuah Keikhlasan...

"kau pikir aku ada di sini untuk apa
kau kira sejauh ini ku datang untuk siapa
kau rasa kulakukan apapun untuk siapa
sangat ingin ku katakan ini untukmu
untukmu, untukmu, ini untukmu"

Sepenggal  lirik lagu Shanti feat Donee yang berjudul Untuk Siapa ini, adalah salah satu lagu favorit aku. Ya, untuk siapa aku disini, selalu menjadi alasan untuk ku melakukan suatu tindakan. Bukan hal yang benar, tentu itu sikap yang sangat tidak dewasa. Ya itulah aku saat itu, selalu mencari alasan bodoh dalam melakukan sesuatu.

Hafalan Shalat Delisa, sebuah Film yang diangkat dari novel berjudul sama, karya penulis bernama Tere Liye. Sutradara Sony Gaokasak mengerjakannya berdasarkan skrip yang ditulis Armantono. Delisa (Chantiq Schagerl) tinggal di sebuah rumah panggung tepi pantai. Hari-harinya diisi dengan bermain bola bersama anak-anak cowok, dan bercengkerama dengan ibu, yang dipanggilnya ummi (Nirina Zubir) dan tiga kakaknya yang semuanya perempuan.

Ya, begitulah kira-kira gambaran awal cerita film Hafalan Shalat Delisa, namun tulisan ini bukan tentang film diatas, namun dari salah satu aspek yang ada dalam film ini, yaitu IKHLAS. Kedengarnya sangat mudah diucapkan namun tak smua orang dapat melakukanya dengan sempurna.

“Uztad kenapa ya dalam melakukan sesuatu kadang terasa sulit?” tanya Delisa dalam sebuah adegan dalam film, “karna terkadang kita melakukannya tidak iklas, atau kita melakukannya karna ada hadiahnya” begitulah kira-kira sang uztad menjawabnya. Mungkin teman-teman kurang paham apabila belum menonton filmnya, namun tulisan ini sekali lagi bukan tentang filmnya namun apa arti ikhlas itu sendiri. Dari situlah aku mulai tersadar betapa pentingnya kita melakukan sesuatu harus berdasarkan rasa ikhlas.

Waktu-waktu yang tlah ku jalani banyak hal yang aku lewati tanpa mengenal ikhlas, sungguh terlalu bodoh saat itu. Misal saja dalam kuliah aku kadang memandang dosen yang mengampu mata kuliah, jika dosen itu enak menurut subjektif kita maka pasti akan mengambil dosen itu berturut-turut pada mata kuliah yang beliau ampu, juga begitu sebaliknya, jika menurut kita dosen itu tidak enak dalam mengajar maka kita tidak memilihnya. Ironi memang, bukan karna mata kuliah apa yang harusnya kita prioritaskan namun dosen mana yang menjadi prioritas kita.

Dalam bergaul juga ada sisi dimana kita merasa nyaman satu sama lain. Maka kadang ada beberapa orang yang sangat selektif dalam bergaul dan memilih teman, namun itu bukan aku kawan. Dalam organisasi kita ditutut loyalitasnya namun tak semua anggota organisasi melakukanya. Ketidak ikhlasanku dalam organisasi bermula dengan kedekatanku dengan salah satu anggota disana, aku mau datang rapat kalau dia datang, berusaha melakukan yang terbaik agar nampak sempurna dimatanya, hahaha bodoh sekali kan dan akhirnya dia sekarang bersanding disisi wanita lain.

Beberapa saat yang lalu Tuhan menunjukan akibat dari ketidak ikhlasanku yang lain. Pertama, hal ini terjadi dimana aku sering nge-gym, aku kenal seseorang sebut saja S, nah karna seringnya aku melihat si S di sana maka muncullah kekagumanku terhadapnya, jadi niatan awalku nge-gym buat bentuk badan berubah karna ada si S aku sering datang. Dan akhirnya rajinlah aku nge-gym, namun selang waktu berjalan malah sebaliknya dia yang jarang kelihatan entah apa sebabnya. Otomatis aku sangat kecewa kawan, namun aku tetap datang rutin ke gym  walaupun tanpa melihatnya. Suatu sore saat aku memasuki ruang gym munculah si S menaiki tangga, aku lumayan terkejut dengan keberadaanya, dalam hati terasa ingin meloncat-loncat, namun hal itu hanya berlangsung sebentar, entah apa sebabnya semua itu terasa hambar, berbeda seperti saat pertama kali aku mengenalnya semua terasa menyenangkan dan berbunga-bunga.

Kedua, adalah saat aku mengikuti sebuah kursus. Alasan aku mengikutinya karna ajakan teman dan kebetulan ada kakak angkatan yang nampaknya sukses dalam mengikutinya. Hal ini tak jauh berbeda dengan hal diatas, saat aku dekat dengan temanku itu aku slalu berangkat bersamanya namun saat dia pergi, semangatku untuk berangkatpun menurun sehingga berakibatlah pada turunnya nilaiku, sehingga membuatku tidak lulus pada level kedua, namun bisa dibilang berkah akibat ketidak lulusanku, aku mengenal orang baru disana.

Singkat cerita aku mulai kagum terhdapnya, kekagumanku bukan karna aku benar-benar mengaguminya soalnya secara tipe dia bukan tipeku, sebut saja D. Sikap D lah yang membuat aku kagum padanya, ya D selalu membuat aku tertawa, jadi apa salahnya aku mengaguminya, ya hanya sekedar mengagumi, tak berani lebih. Karna D lah aku menjadi semangat lagi berangkat kursus, sepeninggalan temanku. Namun suatu saat D pun tak kunjung muncul sehingga kadang aku kecewa kalau aku berangkat tak ada D. Ya baru sampai disitu aku ditunjukkan Tuhan tentang ilmu ikhlas ini terhadap kehadiran sosok D dalam kehidupanku. Sampai aku menonton Film Hafalan Shalat Delisa, aku pun sadar sikapku terhadap kurusku karna D adalah hal yang salah.

Seharusnya aku tak melakukan hal diatas karna “dia” (faktor alasan subjektif) yang menimbulkan rasa ketidak ikhlasan timbul. Sungguh mennyesal aku melakukanya. Namun apa arti sebuah penyesalan tanpa perbaikan. Nah, kini waktuku untuk memperbaiki kesalahanku yang dimana telah terjadi pantas untuk menjadi pelajaran kedepannya agar lebih ikhlas dalam melakukan sesuatu. Bukan karna,
“dia,
dia bisa datang menemani,
dia bisa membuat kita nyaman,
dia bisa membuat kita senang dan terbang,
dia mungkin bisa membantu menggapai impian kita,
namun,
dia juga bisa pergi,
dia bisa lari jauh tak kan kembali,
dia juga bisa mati,
dia bisa menhancurkan kita sewaktu-waktu,
dia juga bisa membuat kita kecewa,
jadi,
kenapa harus dia, jika kita bisa tanpanya,
kenapa harus dia, jika ujungnya hanya fatamorgana
dia, hanya faktor faktor alasan subjektif yang tak berlogika,
dia, hanya fatamorgana,
bukan kepastian, “

Lalu akankah kita mengulangi kesalahan yang sama? Berubahlah kawan sebelum kecewa, lakukan segala sesuatu dengan ikhlas tanpa pamrih, jika melakukan hal yang baik lakukanlah tanpa harus dipertunjukkan kepada orang lain bahwa kita orang baik. Toh orang akan menilai kita dengan sendirinya tanpa kita harus berpura-pura menjadi orang lain, semua akan nampak pada akhirnya kawan.
Kawan-kawanku tersayang marilah bersama-sama berubah, memperbaiki yang telah salah, menjadi lebih baik dan  belajar ilmu ikhlas. Bukan untuk orang lain, namun utuk diri kita sendiri.

Tiada sesuatu yang tepat untuk membayar sebuah kekecewaan kecuali iklas.


Ara Syafira, renungan akhir tahun, disudut kota.

Sabtu, 08 Oktober 2011

NIRWATI

Ny. Nirwati anda feminis sejati, pengembara ulung dan wanita berkarakter tegas. Anda adalah orang terpenting dalam hidup ku setelah ibu kandung ku. 


      Bahkan guraian air mata tak pernah keluar karena usang dimakan jaman, sampai-sampai tak mampu lagi mengisahkan babak demi babak kehidupanmu. Luka masa lalu masih terus kau rekam, barangkali memang tak akan pernah hilang, dan aku menjadi salah seorang yang tahu pahitnya takdirmu. Baik, sekarang ijinkan aku bercerita tentang dirimu. Setidak-tidaknya akan meringankan bebanmu, Ny. Nirwati. 

*** 

Perempuan tua itu duduk di kursi jati panjang warna hitam. Sorot matanya tajam, dahinya berkerut. Saat aku temui tadi pagi, ia hanya menyambut seadanya. Nirwati, begitu ia biasa disapa. Paling tidak nama ini yang ia inginkan, karena kadang orang-orang suka memanggil Nirwati semaunya sendiri. 

     Nirwati lahir 62 tahun lalu, tepatnya kapan ia sendiri sudah lupa. Nirwati besar di kalangan priyayi. Ayahnya, Basri adalah seorang Lurah dan Jamilah ibunya merupakan pengusaha batik terkenal pada masa itu. Ia anak kedua dan satu-satunya perempuan buah perkawinan pertama ibunya. Kakak dan adik Nirwati seluruhnya laki-laki. Saat Nirwati berusia tiga tahun ayahnya meninggal. Lalu ibunya menikah lagi dengan pria Sumatera bernama Karno. Hasil perkawinan ini membikin Nirwati punya dua adik tiri perempuan. Kehadiran Nirwati kecil adalah sebuah anugerah yang tak disangka-sangka. Saat dalam kandungan Nirwati hampir saja tidak hadir dalam dunia, karena Ibunya hampir keguguran. Namun Tuhan berkata lain, Tuhan memberi kesehatan kepada Ibunya setelah berbulan-bulan dirawat di RS dan muncullah Nirwati ke dunia. 

        Dalam pendidikan Nirwati kecil tersendat, kematian ayahnya yang menjadi alasan. Sepeninggalan ayahnya bisnis keluarga carut marut dan akhirnya bangkrut. Ibunya sakit-sakitan dan hampir terserang stroke. Kakaknya tak mau peduli keadaan keluarga bahkan malah tega menjual perabotan rumah untuk foya-foya, sedangkan adiknya masih kecil dan tak tau apa-apa. Nirwati hanya tamat sekolah dasar ia tak meneruskan pendidikannya, ia mulai sibuk mengurusi urusan keluarga.

*** 

       Nirwati tumbuh sebagai gadis remaja yang cantik rupawan, berkarakter dan mempunyai prinsip dalam menjalani hidup. Layaknya kebanyakan remaja, ia bergaul dengan siapa saja. Ia pun aktif membantu kegiatan remaja di desanya. Salah satunya, Nirwati pernah bergabung di sebuah sanggar tari ternama di daerah asalnya. Namun tiada cita-cita untuk menjadi penari. Hanya mengisi waktu luang saja. Nirwati juga bekerja sebagai penyetor kain batik di Pasar Beringharjo. Kebetulan pelanggannya adalah kolega-kolega lama ibunya saat bisnis keluarga masih lancarl. Makanya, terhitung mudah untuk urusan bayar-membayar. 

***

           Kisah cinta Nirwati adalah bagian antara kebahagian dan kesedihannya. Saat remajanya ia pernah dilamar seorang Mandor pabrik gula yang umurnya jauh diatasnya, jelas ia menolak namun ibunya memaksa karena alasan Mandor itu adalah orang terhormat dan dari kalangan priyayi, namun Nirwati tetap menolak. Ia akhirnya memutuskan meninggalkan rumah dan berkelana dengan modal seadanya. 

        Pasca kabur dari rumah ia berdomisili sementara di daerah Wonosobo dengan profesi yang masih sama namun sasarannya adalah pasar Wonosobo. Lambat laun kehidupannya berjalan seperti biasa. Masuk tahu ke-3 ia menemukan seseorang yang menurutnya pas untuk dijadikan suami. Menikahlah mereka dan Nirwati berniat mengenalkan pada Ibu dan keluarganya diJogja. Namun ternyata ibunya kurang setuju dengan keputusannya, selain itu jelas karena alasan bobot, bebet, bibit. Ya, kebanyakan orang jawa kadang itu yang menjadi kriteria. Tak selang bebrapa lama hubungan pernikahan mereka tak harmonis dan akhirnya bercerai.

         Tak lama dari perceraiannya ia menemukan pria yang mencintainya dan menerima ia apa adanya. Panggil saja pria ini Rusno. Selang beberapa tahun mereka akhirnya menikah. Dalam pernikahan kedua Nirwati semua cerita menjadi berubah sedih, sejak pernikahannya ini yang ada hanyalah duka dan amarah. Suami yang ia sayangi adalah iblis baginya, KDRT, perselingkuhan, tak ternafkahi dan yang paling jahat adalah pemanfaatan. Rusno tahu Nirwati sebenarnya anak orang berada maka ia selalu dan selau meminta uang untuk berfoya-foya. Sedangkan dengan kesetaiaan dan kesabaran Nirwati hanya diam dan berdoa. 

 ***
          Kini Nirwati sudah lanjut usia, masih dengan suami yang sama dan beranakan satu perempuan. Ia tak lagi ambil pusing masalah suaminya, baginya yang terpenting kini adalah anaknya. Anak satu-satunya, jantung hatinya. Satu-satunya alasan mengapa ia masih tegar dan bertahan sampai saat ini. Anaknya kini sedang menempuh bangku kuliah disalah satu perguruan tinggi negeri di Jogja. Mengambil jurusan sosial, harapannya anak tersebut dapat mengobati sakitnya terhadap ketidakadilan yang selama ini ia rasakan. 
          Ny. Nirwati, kau adalah salah satu motivator dalam hidup ku. Ketegaran, prinsip, dan kesabaran dalah identitas mutlak anda dan masih banyak hal-hal positif yang aku dapat dari anda. Sayang anda bukan orang ternama, bukan penulis, bukan politisi, bukan artis atau pelukis. Anda adalah ibu rumah tangga yang sangat menyayangi anaknya dan rela melakukan apa saja walau kadang harus mengorbankan sedikit harga diri anda. Anda terlalu baik sehingga orang lain kadang hanya memanfaatkan kebaikan anda.

Jumat, 06 Mei 2011

mengenang lentera hati

Lama tak mengenangmu sang lentera hati, apa kabarmu hari ini?
Sosokmu tak mungkin pergi dalam benakku, sosokmu tetap di kalbu.
Walau tak mungkin lagi ku miliki, tak jenuh aku mengenangmu.
Lentera hati kaulah cahaya dalam kalbuku walau kini tlah redup.
***
Mungkin kau masih kecewa, atau bahkan sudah kau hapus semua kenangan indah kita. Tapi kini ku tepati janjiku padamu, itu alasanku kenapa masih sendiri. Apakah kau juga akan tepati janjimu padaku?
Lentera hati aku lama tak melihat senyumu, senyum yang sama selama dua setengah tahun ini. Dan kini tak ada senyum itu lagi untukku.
Dirimu terlalu angkuh saat ini seperti tak mau mengenalku lagi. Apakah ada salah yang tak bisa kau maafkan hingga kau tak mau tersenyum lagi padaku?
Lentera hati….. ingatkah masa-masa dimana kita selalu bersama… menyambut pagi dan menghantarkan senja. Saat hujan turun dan kau nampak kedinginan, aku masih disisimu. Saat kita berdua di depan kelas dimana kampus masih sepi dan kita belajar bersama. Saat kita janjian bertemu pukul sebelas di ruang baca dan teman-temanku mengusik kita. Saat kita selalu pulang kuliah bersama. Saat pertama kali kita bertemu kau menghantarkan ku pulang setelah buka puasa bersama. Saat kau selalu mengirim pesan kepadaku dan kau katakan alasanmu masih sendiri. Saat kau duduk dihadapanku dan kau mengatakan vegetarian adalah orang terbodoh sedunia, dan kau sudah merusak pola dietku saat itu. Saat aku tahu akulah orang pertama yang kau sms setiba kau di Yogya sedari kau pergi jauh. Saat kau marah waktu aku menayakan tentang nikah siri dan menanyakan apakah aku akan menikah siri? (apa maksudmu). Saat kau cemburu waktu ku menanyakan temanmu, dank au bilang kamu suka ya ama dia?( sebenarnya ingin ku jawab “tidak, aku hanya suka kamu”). Saat aku harus sendiri dan menantimu.
Dan masih banyak saat-saat manis antara kita yang tak dapat kutuliskan. Aku hanya ingin menyimpanya untukmu.

***
Lentera hati, aku tak mengerti dirimu saat ini. Apakah menjalin “hubungan” dengan lawan jenis menurutmu tabu? Entah prinsip hidupmu memang begini? Atau ada alasan yang lain yang tak ku mengerti? Mengapa kau berubah padaku?
Alasanku masih sendiri saat ini ku rasa kau tahu. Semoga kau menepati janji diakhir kisah ini.

Sabtu, 05 Maret 2011

Sampah Di April lalu

SALAH ………………
Hidup ini memang sangat mudah, sangat mudah menyalahkan orang , sangat mudah bilang aku yang palinng benar…………………
Hidup ini terlalu sulit, sulit memahami orang, sulit meminta maaf, sulit mengaku saya bersalah, sulit melihat mana realita mana fatamorgana…………
Hidup ini sangat gampang, sangat gampang untuk berkata tidak namun tak pedulikan perasaan yang lain, sangat gampang mencari musuh, sangat gampang mengucap benci, dan sangat gampang untuk menfitnah………..
Ternyata hidup ini juga susah, susah membedakan mana kawan mana lawan, susah melihat kejujuran, susah melihat kebaikan yang sebenarnya……….
Ya, hidup ini memang seperti ini, susah dan mudah ada pada diri kita sendiri……….…. Banyak alasan untuk membuat orang menangis, namun sedikit alasan untuk nenerima kenyataan. Menagis bukan kesalahan, namun juga bukan alasan pembenar untuk dibela, menangis adalah pilihan, ada waktu untuk menahan air mata untuk tidak meneteskannya, namun kadang kehilangn kendali sehingga air mata mau tak mau harus menetes…………………….…….
Ini bukan kisah cinta yang merah jambu atau abu-abu, tapi ini tentang aku, ku tak mengharapkan kalian membaca ini, aku hanya curhat pada kertas elektronik yang tak perlu komentar aku benar atau salah……….
SALAH………………….ya salah. Seperti momok yang melekat dalam hidupku akhir-akhir ini, hampir semua hal yang ku lakukan semaksimal mungkinpun tetap saja SALAH…………
Benar-benar sangat menyenangkan bercumbu dengan harumnya luka yang semerbak wanginya dalam sudut hatiku ini……
Jiwaku bagaikan bayangan , ada dan tiadanya aku tak ada artinya…..Pertanyaan, perhatian, bagaikan episode yang terancang indah dalam drama hidupku…………..
Akting-akting ini membuat aku muak menginjakkan kakiku disana……Haruskah aku slalu disini? Di sudut kota, dimana sedikit damai kurasa……
Ku tak pernah salahkan pertemuan kita, maupun perkenalan kita, walau banyak yang membenciku karna ketidak sempurnaanku atau pergi meninggalkanku karna ketidak sempurnaan ini…… aku tetap di sini, untuk kalian yang diturunkan di dunia untuk menjadi malaikat-malaikatku, yang masih menerima dan tidak meninggalkanku dalam ketidaksempurnaan ini, kalian yang slalu ada untukku, kalian bukan penyindir jahanam, namun penasehat yang mulia, kalian bukan pengambil semangat, namun penambah semangat dan energi positifku……………… terimakasih kalian yang masih mencintaiku walaupun aku begini bukan karena aku seperti itu…………. Penghormatan tertinggi untuk jiwa-jiwa mulia kalian setelah Tuhanku………… kalianlah alasan aku masih disini…………………
Apakah aku tampak pucat pagi ini????
Jangan tanyakan aku sakit atau tidak? Aku sudah biasa dengan hal ini akhir-akhir ini, aku tahu bagaimana aku harus bersikap, benar atau salah aku tak mengerti, karna ku melangkah dalam gelap ini……
Aku percaya masalah yang menggunung ini adalah karunia Tuhan untukku, agar derajat ku dapat naik ke level yang lebih tinggi. A……………mien………
Biarkan ku menikmati betapa nikmatnya menghadapi hidangan masalah ini, agar dapat kulahap dan ku cerna satu per satu…….. biarlah hanya aku yang tahu semua ini………..
Aku tak harap harus mengerti aku, aku juga tak harap untuk membantu menyelesaikan masalahku satu persatu, sebenarnya aku hanya minta waktu, untuk menentukan mana yang harus ku lahap terkebih dahulu, waktu untuk berfikir agar tiada yang tersakiti……….. namun ku dipaksa menelan pil pahit ini, lalu banyak yang terluka karna aku tak mampu memilih lagi……….. Ya banyak yang terluka karna ini, lalu bagaimana aku? Tahukah rasa pil pahit ini????? Ternyata sungguh nikmat…………. Anggap saja aku baik-baik saja……… toh aku masi hidup, tertawa, makan, minum dan melakukan kegiatan yang sama seperti yang baik-baik saja…………. Bagaimana dengan perasaan dan hatiku? Oooo…………………. Ternyata aku masih punya rasa dan hati, bagaimana? Tak ada yang kan tanyakan itu, itu bukan cerita menarik dalam kisah ini, atau hanya kan mendengar omong kosong lagi ? komentar …………?
Sebenarnya kisah ini tak layak untuk konsumsi umum, namun ku hanya ingin mengungkap dibalik ke GeJean aku, aku sungguh tak membenci siapapun, karna hidupku untuk mengasihi, aku orang yang bertanggung jawab(tahukah aku pergi? Bukan lari dari masalah, tapi ku menyelesaikan masalah lain? Bukan main atau bersenang-senang, aku berpikir, aku slalu melakukan hal dengan maksimal, salahkan aku dan katakalah padaku jika ku salah secara langsung padaku, karna saat ini itulah peranku, menjadi yang salah), aku tak marah karna kedamaian yang sedang ku cari…………
Aku diam bukan ku tak mau bicara, tapi ku merangkai kata agar tiada yang terluka, iya aku salah, jika ada kata selain kata maaf yang dapat ku ucap akan ku ucapkan. Baiklah aku kan berusaha menjadi seperti yang kalian mau, menuruti keinginan-keinginan kalian, aku akan berusaha agar kalian bahagia dan tak menangis lagi, namun maaf jika ku tak memenuhi standar kalian, karena kemampuanku seperti ini, ingat…… aku akan melakukan semaksimal mungkin……..
Berbahagialah kalian semua yang ku kenal………… sesungguhnya aku bukan orang yang pemarah ataupun sensitife, jika kalian benar-benar mengenalku……………



Ara Dilanda Lara (senja diakhir April, dalam keheningan sudut kota)

Kamis, 03 Maret 2011

TIADA JUDUL YANG PANTAS UNTUK SEBUAH PENYESALAN

Tuhan terimakasih telah kau bukakan mata hambamu ini,
Slama ini yang hamba anggap istana menjadi kandang Singa,
Sedangkan yang hamba anggap neraka ternyata memberikan berjuta makna hidup,

Sesal memang selalu datang pada akhir dan kecewa terjadi setelah apa yang kita harapkan tidak terjadi. Orang diluar tak pernah mau tau apa yang kita inginkan, yang tau keinginan kita ya kita sendiri sebenarnya. Aku baru sadar bahwa disekelilingku banyak sekali bau busuk yang mulai tercium. Di saat aku ingin berubah menjadi lebih baik malah justru lingkungan disekelilingku adalah busuk. Aku memang masih labil saat ini belum dewasa, bahkan untuk mengetahui benar dan salah pun aku tak bisa. Disekitarku jalang, setan dan iblis selalu menghantui setiap detikku. Kemunafikan semakin merajalela, orang bermuka dua pun jadi penguasa keadaan. Politik abu-abu maupun hitam semakin terlihat. Aku bingung kepada siapa aku harus mengadu, kepada siapa aku harus berkeluh kesah, semua siluman rubah.
Persetan dengan mulut-mulut anjing yang suka menggonggong, yang mengaku berkualitas tinggi dan memandang rendah yang lain, yang menganggap dirinya professional dan paling sempurna. Mereka tak pernah kenal ketulusan dan kesetiakawanan. Teman dan musuh tiada beda semua adalah saingan. Masa bodoh dengan orang yang gila jabatan, ingin diperhatikan dan dipuja-puja bak dewa. Mereka tak lebih seorang penjilat buta.
Lalu aku harus bagaimana jika sekelilingku adalah pedang-pedang tajam, yang siap mencabik dagingku tiada ampun. Kini semakin jelas mana kawan mana lawan, muka-muka boneka yang bersikap manis bak madu namun hati iblis tetap kupelihara, kupupuk agar mereka semakin palsu, hingga mereka tak mampu lagi membedakan mana air mana api.
Aku serba salah dan selalu menjadi yang salah, aku benci harus mengulang-ulang kata ini dalam setiap tulisanku, namun memang demikianlah realitanya. Aku menjadi pihak serba salah, aku menjadi objek pencabikan, aku objek penumpasan dan sebentar lagi aku menjadi tumbal dari politik-politik hitam para yang mulia. Aku memang bodoh dan itu alasanku belajar, namun aku salah, sekelilingku bukan lingkungan yang tepat untuk belajar tapi lingkungan berebut simpati dan kekuasaan. Ya, semua kekuasaan, bukan hanya jabatan, kekuasaan situasi maupun pertemanan. Mereka-mereka yang mulia yang akan menyetir keadaan-keadaan ini. Dan orang-orang bodoh adalah tumbal dari kesalahan-kesalahan mereka.
Baru tau aku ada para yang mulia ini disekelilingku, para penghantu yang sangar. Aku kira ini komunitas surga yang awalnya menawarkan berjuta harapan. Setelah ku lalui aku dilepaskan begitu saja, tanpa sebuah senjatapun ku pegang. Padahal ini adalah Colloseum, dimana yang kuatlah yang bertahan bak pertarungan gladiator zaman romawi kuno. Namun yang ku hadapi bukan banteng ataupun binatang buas lainnya, ini lebih menyeramkan seribu kali lipat. Para penjilat dan muka-muka boneka. Kadang aku tak mampu bedakan apa sebenarnya ini. Aku kadang terpesona dengan muka bonekanya maupun lantunan mantra dari mulut racunnya. Aku terlalu dangkal menangkap kebusukan ini aku kira mereka malaikat.
Seorang kawan berkata “makanya jadi orang gak lugu-lugu banget, oon gak oon banget”. Mungkin benar kata-kata itu, karna aku memang tidak tau bagaimana caranya mengakali orang, aku tak bisa menjadikan orang lain sebagai tumbal kesalahanku. Jika aku salah ya aku yang bertangguang jawab jika aku benar ya aku yang senang. Namun teori ini tak berlaku untuk para yang mulia, kamu yang susah-susah aku yang nikmatin hasilnya kalau dipuji ya harus aku yang dapat pujian, tapi kalau salah ya kamu yang tanggung jawab. F***K !!! buat para yang mulia.
Akhirnya aku sadar komunitas awal yang menghantarkan pada makna hidup adalah komunitas itu. Yang benar-benar banyak ilmu yang aku serap dan bermanfaat tanpa teoritis yang kaku. Santai bahkan terkesan hura-hura. Justru aku pahami apa yang aku cari disana, komunitas yang aku marginalkan, komunitas yang aku anak tirikan, yang aku kadang benci namun aku sadar merekalah yang paling berarti secara professional. Jujur aku menyesal atas sikap tidak baikku kepada kalian selama ini terutama akhir-akhir ini. Sesungguhnya kalianlah keluargaku namun aku yang kadang berburuk sangka dan menjauhi kalian. Maaf yang sangat amat dalam terhadap kalian semua, aku telah jahat terhadap kalian selama ini, aku hanya menjadi beban dan selalu menyusahkan kalian. Aku sadar sindiran-sidiran dan amarah-amarah yang kalian lontarkan kepadaku adalah bentuk ketulusan kalian, karena kalian bukan para yang mulia yang munafik, karena aku salah dan kalian ingatkan diriku secara langsung kepada diriku tanpa ada kata kambing hitam dan tumbal. Aku sangat menyesal menyia-nyiakan kalian dan memandang sebelah mata.
Tuhan………….. terimakasih kau temukan aku dengan seorang kawan lama yang sempat menghilang dan kini membuka mataku, menganalisa keadaan yang sebenarnya terjadi di sekelilingku.
Terimakasih kawan semoga Tuhan mu selalu menganugerahkan rahmat dan hidayah-Nya kepadamu….

CINTA YANG TERTUNDA



Ku curahkan semua anganku pada malam,
Ku tuangkan semua pikirku pada bulan dan bintang
Setelah ku menelisik masih tertinggal secerca angan tentang dirimu,
Ku anggap takkan mampu temukan dirimu dalam benakku,
Ternyata puing-puing sosokmu belum bersih tersapu angin
Dari secuil semua tentang dirimu, mampukah ku tata kembali hatiku untukmu?
Setelah ku memutuskan mengunci hatiku,
Mungkinkah hati ini terbuka untukmu ??
Sosokmu datang dan pergi dalam hatiku, selalu saja begitu
Telah ku coba mencintaimu sepenuh hati, dan menerimamu apa adanya,
Namun saat ku benar-benar berusaha dan sedikit mulai dapat merasakannya,
Kau hancurkan semua itu dengan kepalsuan dan keegoanmu,
Aku kecewa dan dengan segera pergi meninggalakanmu,
Maaf jika dirimu merasa tersakiti,
Namun aku kira aku yang paling sakit disini,
Saat itu aku benar-benar hancur dan terluka, bahkan aku sngat ingin membencimu
Namun apapun usaha yang ku lakukan utuk membencimu hanya membuatku semakin sakit dan terluka.
Malam … jika dia kembali kepadaku, jujur aku tak tahu apa yang harus ku lakukan padanya,
Aku ingin mencintainya ……… namun terlalu sakit untuk memulainya lagi
Aku ingin membencinya…..… namun sama saja menyakiti diri sendiri
Malam…………… seandainya cinta ini tak pernah tertunda dan selalu mengalir sesuai inginku……
Saat ini aku akan merasa bahagia
Bahagia bersamanya……….

Kamis, 03 Februari 2011

Saat ku Rapuh

Jiwaku kini telah rapuh, hancur dan tak berbentuk lagi,
Tiada tawa, canda maupun ceria,
Kini benar hatiku telah terkunci, dan ku buang kuncinya jauh-jauh.
Aku gila, kadang tak tahu apa yang ku ingin ku lakukan,
Kulakukan apa yang mereka minta terkadang,
Kulakukan apa yang tak ingin ku lakukan dan tak ada yang meminta.
Aku bodoh tak tahu arah lagi, aku kecewa dengan dunia,
Semua semakin abu-abu….
Dan aku bagaikan debu…
Aku tak berarti lagi…..
Tak ada yang mencari lagi…
Tapi aku dikejar-kejar target,
Banyak yang menuntut ini itu, tapi tak mau tahu dukaku,
Telalu bodoh memang jika aku harus selalu dupahami,
Tapi keadaan yang membuat aku seperti ini,
Terlalu keras tamparan ini kurasakan, tentang smuanya, dan hanya aku yang dapat menegerti,
Yang lain hanya terlalu banyak menuntut, agar aku sperti ini, seperti itu,
Aku bukan robot ataupun patung, walaupun aku sering kalian patungkan,
Aku sakit dan kecewa atas keputusan yang kalian berikan,
Namun akau terima, walau kini ku telah hancur, sulit untuk bersenyawa kembali.
Ini bukan masalah cintaku dengannya, aku enggan melihatnya lagi.
Sudah telat, hatiku sudah terkunci,
Ini maslah moral yang kalian tanamkan, terlalu buruk untuk ku terima,
Jiwaku bukan bagian dari kalian lagi, namun bagian yang lain.
Walaupun ragaku bersama namun semua tak bersenyawa,
Kenapa????
Karena kalian yang membunuh jiwaku yang masih lemah, dengan sangat kejam.
Dan kini tiada lagi rasa untuk kalian,
Hambar, palsu, munafik, muak, busuk, hancur, gila, tidak adil, diskriminasi, omong kosong, dan masihbanyak lagi.
Aku hanya ingin dapat bernafas bebas, aku hanya ingin semua oranng bahagia,
Kenapa kalian lukai aku begitu dalam, terutama kau yang memulai semuanya,
Entah apa yang akan ku lakukan nanti, jika nyawaku tlah tiada bersama kalian,
Aku tahu kau membenciku saat ini? Tapi apa peduliku,
Aku sedang tak ingin tahu tentang kalian,
Jujur dari hatiku yang terdalam aku sangat mersakan ketidakadilan,
Memang keadilan susah di cari, namun kalian akan membayar mahal semua ini jika aku tak mampu lagi disisni.
Lalu kalian menuduh aku membawa pengaruh ini itu?
Bukan salahkan yang lain jika mengikuti jejakku???
Tapi siapa mau tahu, karna aku salah.
Ya karena aku selalu salah dimata kalian, selau dianggap beretorika semata,
Sedangkan dilain tepat ada yang menghargai aku dan membuat aku bahagia.
Bagaimana aku tak ingin pergi dari kalian????

Aku lelah dan aku tahu semua lelah,
Namun kalian bukan aku, jadi sampai kapanpun kalian akan sperti itu, nikmatilah………….