Jumat, 30 Desember 2011

Curahan di Akhir Tahun, Arti Sebuah Keikhlasan...

"kau pikir aku ada di sini untuk apa
kau kira sejauh ini ku datang untuk siapa
kau rasa kulakukan apapun untuk siapa
sangat ingin ku katakan ini untukmu
untukmu, untukmu, ini untukmu"

Sepenggal  lirik lagu Shanti feat Donee yang berjudul Untuk Siapa ini, adalah salah satu lagu favorit aku. Ya, untuk siapa aku disini, selalu menjadi alasan untuk ku melakukan suatu tindakan. Bukan hal yang benar, tentu itu sikap yang sangat tidak dewasa. Ya itulah aku saat itu, selalu mencari alasan bodoh dalam melakukan sesuatu.

Hafalan Shalat Delisa, sebuah Film yang diangkat dari novel berjudul sama, karya penulis bernama Tere Liye. Sutradara Sony Gaokasak mengerjakannya berdasarkan skrip yang ditulis Armantono. Delisa (Chantiq Schagerl) tinggal di sebuah rumah panggung tepi pantai. Hari-harinya diisi dengan bermain bola bersama anak-anak cowok, dan bercengkerama dengan ibu, yang dipanggilnya ummi (Nirina Zubir) dan tiga kakaknya yang semuanya perempuan.

Ya, begitulah kira-kira gambaran awal cerita film Hafalan Shalat Delisa, namun tulisan ini bukan tentang film diatas, namun dari salah satu aspek yang ada dalam film ini, yaitu IKHLAS. Kedengarnya sangat mudah diucapkan namun tak smua orang dapat melakukanya dengan sempurna.

“Uztad kenapa ya dalam melakukan sesuatu kadang terasa sulit?” tanya Delisa dalam sebuah adegan dalam film, “karna terkadang kita melakukannya tidak iklas, atau kita melakukannya karna ada hadiahnya” begitulah kira-kira sang uztad menjawabnya. Mungkin teman-teman kurang paham apabila belum menonton filmnya, namun tulisan ini sekali lagi bukan tentang filmnya namun apa arti ikhlas itu sendiri. Dari situlah aku mulai tersadar betapa pentingnya kita melakukan sesuatu harus berdasarkan rasa ikhlas.

Waktu-waktu yang tlah ku jalani banyak hal yang aku lewati tanpa mengenal ikhlas, sungguh terlalu bodoh saat itu. Misal saja dalam kuliah aku kadang memandang dosen yang mengampu mata kuliah, jika dosen itu enak menurut subjektif kita maka pasti akan mengambil dosen itu berturut-turut pada mata kuliah yang beliau ampu, juga begitu sebaliknya, jika menurut kita dosen itu tidak enak dalam mengajar maka kita tidak memilihnya. Ironi memang, bukan karna mata kuliah apa yang harusnya kita prioritaskan namun dosen mana yang menjadi prioritas kita.

Dalam bergaul juga ada sisi dimana kita merasa nyaman satu sama lain. Maka kadang ada beberapa orang yang sangat selektif dalam bergaul dan memilih teman, namun itu bukan aku kawan. Dalam organisasi kita ditutut loyalitasnya namun tak semua anggota organisasi melakukanya. Ketidak ikhlasanku dalam organisasi bermula dengan kedekatanku dengan salah satu anggota disana, aku mau datang rapat kalau dia datang, berusaha melakukan yang terbaik agar nampak sempurna dimatanya, hahaha bodoh sekali kan dan akhirnya dia sekarang bersanding disisi wanita lain.

Beberapa saat yang lalu Tuhan menunjukan akibat dari ketidak ikhlasanku yang lain. Pertama, hal ini terjadi dimana aku sering nge-gym, aku kenal seseorang sebut saja S, nah karna seringnya aku melihat si S di sana maka muncullah kekagumanku terhadapnya, jadi niatan awalku nge-gym buat bentuk badan berubah karna ada si S aku sering datang. Dan akhirnya rajinlah aku nge-gym, namun selang waktu berjalan malah sebaliknya dia yang jarang kelihatan entah apa sebabnya. Otomatis aku sangat kecewa kawan, namun aku tetap datang rutin ke gym  walaupun tanpa melihatnya. Suatu sore saat aku memasuki ruang gym munculah si S menaiki tangga, aku lumayan terkejut dengan keberadaanya, dalam hati terasa ingin meloncat-loncat, namun hal itu hanya berlangsung sebentar, entah apa sebabnya semua itu terasa hambar, berbeda seperti saat pertama kali aku mengenalnya semua terasa menyenangkan dan berbunga-bunga.

Kedua, adalah saat aku mengikuti sebuah kursus. Alasan aku mengikutinya karna ajakan teman dan kebetulan ada kakak angkatan yang nampaknya sukses dalam mengikutinya. Hal ini tak jauh berbeda dengan hal diatas, saat aku dekat dengan temanku itu aku slalu berangkat bersamanya namun saat dia pergi, semangatku untuk berangkatpun menurun sehingga berakibatlah pada turunnya nilaiku, sehingga membuatku tidak lulus pada level kedua, namun bisa dibilang berkah akibat ketidak lulusanku, aku mengenal orang baru disana.

Singkat cerita aku mulai kagum terhdapnya, kekagumanku bukan karna aku benar-benar mengaguminya soalnya secara tipe dia bukan tipeku, sebut saja D. Sikap D lah yang membuat aku kagum padanya, ya D selalu membuat aku tertawa, jadi apa salahnya aku mengaguminya, ya hanya sekedar mengagumi, tak berani lebih. Karna D lah aku menjadi semangat lagi berangkat kursus, sepeninggalan temanku. Namun suatu saat D pun tak kunjung muncul sehingga kadang aku kecewa kalau aku berangkat tak ada D. Ya baru sampai disitu aku ditunjukkan Tuhan tentang ilmu ikhlas ini terhadap kehadiran sosok D dalam kehidupanku. Sampai aku menonton Film Hafalan Shalat Delisa, aku pun sadar sikapku terhadap kurusku karna D adalah hal yang salah.

Seharusnya aku tak melakukan hal diatas karna “dia” (faktor alasan subjektif) yang menimbulkan rasa ketidak ikhlasan timbul. Sungguh mennyesal aku melakukanya. Namun apa arti sebuah penyesalan tanpa perbaikan. Nah, kini waktuku untuk memperbaiki kesalahanku yang dimana telah terjadi pantas untuk menjadi pelajaran kedepannya agar lebih ikhlas dalam melakukan sesuatu. Bukan karna,
“dia,
dia bisa datang menemani,
dia bisa membuat kita nyaman,
dia bisa membuat kita senang dan terbang,
dia mungkin bisa membantu menggapai impian kita,
namun,
dia juga bisa pergi,
dia bisa lari jauh tak kan kembali,
dia juga bisa mati,
dia bisa menhancurkan kita sewaktu-waktu,
dia juga bisa membuat kita kecewa,
jadi,
kenapa harus dia, jika kita bisa tanpanya,
kenapa harus dia, jika ujungnya hanya fatamorgana
dia, hanya faktor faktor alasan subjektif yang tak berlogika,
dia, hanya fatamorgana,
bukan kepastian, “

Lalu akankah kita mengulangi kesalahan yang sama? Berubahlah kawan sebelum kecewa, lakukan segala sesuatu dengan ikhlas tanpa pamrih, jika melakukan hal yang baik lakukanlah tanpa harus dipertunjukkan kepada orang lain bahwa kita orang baik. Toh orang akan menilai kita dengan sendirinya tanpa kita harus berpura-pura menjadi orang lain, semua akan nampak pada akhirnya kawan.
Kawan-kawanku tersayang marilah bersama-sama berubah, memperbaiki yang telah salah, menjadi lebih baik dan  belajar ilmu ikhlas. Bukan untuk orang lain, namun utuk diri kita sendiri.

Tiada sesuatu yang tepat untuk membayar sebuah kekecewaan kecuali iklas.


Ara Syafira, renungan akhir tahun, disudut kota.

Sabtu, 08 Oktober 2011

NIRWATI

Ny. Nirwati anda feminis sejati, pengembara ulung dan wanita berkarakter tegas. Anda adalah orang terpenting dalam hidup ku setelah ibu kandung ku. 


      Bahkan guraian air mata tak pernah keluar karena usang dimakan jaman, sampai-sampai tak mampu lagi mengisahkan babak demi babak kehidupanmu. Luka masa lalu masih terus kau rekam, barangkali memang tak akan pernah hilang, dan aku menjadi salah seorang yang tahu pahitnya takdirmu. Baik, sekarang ijinkan aku bercerita tentang dirimu. Setidak-tidaknya akan meringankan bebanmu, Ny. Nirwati. 

*** 

Perempuan tua itu duduk di kursi jati panjang warna hitam. Sorot matanya tajam, dahinya berkerut. Saat aku temui tadi pagi, ia hanya menyambut seadanya. Nirwati, begitu ia biasa disapa. Paling tidak nama ini yang ia inginkan, karena kadang orang-orang suka memanggil Nirwati semaunya sendiri. 

     Nirwati lahir 62 tahun lalu, tepatnya kapan ia sendiri sudah lupa. Nirwati besar di kalangan priyayi. Ayahnya, Basri adalah seorang Lurah dan Jamilah ibunya merupakan pengusaha batik terkenal pada masa itu. Ia anak kedua dan satu-satunya perempuan buah perkawinan pertama ibunya. Kakak dan adik Nirwati seluruhnya laki-laki. Saat Nirwati berusia tiga tahun ayahnya meninggal. Lalu ibunya menikah lagi dengan pria Sumatera bernama Karno. Hasil perkawinan ini membikin Nirwati punya dua adik tiri perempuan. Kehadiran Nirwati kecil adalah sebuah anugerah yang tak disangka-sangka. Saat dalam kandungan Nirwati hampir saja tidak hadir dalam dunia, karena Ibunya hampir keguguran. Namun Tuhan berkata lain, Tuhan memberi kesehatan kepada Ibunya setelah berbulan-bulan dirawat di RS dan muncullah Nirwati ke dunia. 

        Dalam pendidikan Nirwati kecil tersendat, kematian ayahnya yang menjadi alasan. Sepeninggalan ayahnya bisnis keluarga carut marut dan akhirnya bangkrut. Ibunya sakit-sakitan dan hampir terserang stroke. Kakaknya tak mau peduli keadaan keluarga bahkan malah tega menjual perabotan rumah untuk foya-foya, sedangkan adiknya masih kecil dan tak tau apa-apa. Nirwati hanya tamat sekolah dasar ia tak meneruskan pendidikannya, ia mulai sibuk mengurusi urusan keluarga.

*** 

       Nirwati tumbuh sebagai gadis remaja yang cantik rupawan, berkarakter dan mempunyai prinsip dalam menjalani hidup. Layaknya kebanyakan remaja, ia bergaul dengan siapa saja. Ia pun aktif membantu kegiatan remaja di desanya. Salah satunya, Nirwati pernah bergabung di sebuah sanggar tari ternama di daerah asalnya. Namun tiada cita-cita untuk menjadi penari. Hanya mengisi waktu luang saja. Nirwati juga bekerja sebagai penyetor kain batik di Pasar Beringharjo. Kebetulan pelanggannya adalah kolega-kolega lama ibunya saat bisnis keluarga masih lancarl. Makanya, terhitung mudah untuk urusan bayar-membayar. 

***

           Kisah cinta Nirwati adalah bagian antara kebahagian dan kesedihannya. Saat remajanya ia pernah dilamar seorang Mandor pabrik gula yang umurnya jauh diatasnya, jelas ia menolak namun ibunya memaksa karena alasan Mandor itu adalah orang terhormat dan dari kalangan priyayi, namun Nirwati tetap menolak. Ia akhirnya memutuskan meninggalkan rumah dan berkelana dengan modal seadanya. 

        Pasca kabur dari rumah ia berdomisili sementara di daerah Wonosobo dengan profesi yang masih sama namun sasarannya adalah pasar Wonosobo. Lambat laun kehidupannya berjalan seperti biasa. Masuk tahu ke-3 ia menemukan seseorang yang menurutnya pas untuk dijadikan suami. Menikahlah mereka dan Nirwati berniat mengenalkan pada Ibu dan keluarganya diJogja. Namun ternyata ibunya kurang setuju dengan keputusannya, selain itu jelas karena alasan bobot, bebet, bibit. Ya, kebanyakan orang jawa kadang itu yang menjadi kriteria. Tak selang bebrapa lama hubungan pernikahan mereka tak harmonis dan akhirnya bercerai.

         Tak lama dari perceraiannya ia menemukan pria yang mencintainya dan menerima ia apa adanya. Panggil saja pria ini Rusno. Selang beberapa tahun mereka akhirnya menikah. Dalam pernikahan kedua Nirwati semua cerita menjadi berubah sedih, sejak pernikahannya ini yang ada hanyalah duka dan amarah. Suami yang ia sayangi adalah iblis baginya, KDRT, perselingkuhan, tak ternafkahi dan yang paling jahat adalah pemanfaatan. Rusno tahu Nirwati sebenarnya anak orang berada maka ia selalu dan selau meminta uang untuk berfoya-foya. Sedangkan dengan kesetaiaan dan kesabaran Nirwati hanya diam dan berdoa. 

 ***
          Kini Nirwati sudah lanjut usia, masih dengan suami yang sama dan beranakan satu perempuan. Ia tak lagi ambil pusing masalah suaminya, baginya yang terpenting kini adalah anaknya. Anak satu-satunya, jantung hatinya. Satu-satunya alasan mengapa ia masih tegar dan bertahan sampai saat ini. Anaknya kini sedang menempuh bangku kuliah disalah satu perguruan tinggi negeri di Jogja. Mengambil jurusan sosial, harapannya anak tersebut dapat mengobati sakitnya terhadap ketidakadilan yang selama ini ia rasakan. 
          Ny. Nirwati, kau adalah salah satu motivator dalam hidup ku. Ketegaran, prinsip, dan kesabaran dalah identitas mutlak anda dan masih banyak hal-hal positif yang aku dapat dari anda. Sayang anda bukan orang ternama, bukan penulis, bukan politisi, bukan artis atau pelukis. Anda adalah ibu rumah tangga yang sangat menyayangi anaknya dan rela melakukan apa saja walau kadang harus mengorbankan sedikit harga diri anda. Anda terlalu baik sehingga orang lain kadang hanya memanfaatkan kebaikan anda.

Selasa, 04 Oktober 2011

Lirik Lagu Judika Setengah Mati Merindu

mengapa waktu tak pernah berpihak kepadaku apakah aku terlalu, terlalu banyak berkelana mengapa kita masih saja tak pernah bersatu selalu saja bertemu, bertemu saat kau milik yang lain *courtesy of LirikLaguIndonesia.net mungkin kau bukanlah jodohku, bukan takdirku terus terang aku merindukanmu, setengah mati merindu tiada henti merindukanmu masih hatiku untukmu, aku tetap menunggumu mengapa waktu tak pernah berpihak kepadaku apakah aku terlalu, terlalu banyak berkelana mungkin kau bukanlah jodohku atau bahkan bukan takdirku terus terang (terus terang) aku merindukanmu, setengah mati merindu tiada henti merindukanmu masih hatiku untukmu, aku tetap menunggumu aku merindukanmu, setengah mati merindu aku merindukanmu, masih hatiku untukmu aku tetap menunggumu (ku tetap menunggu) (setengah matiku menunggumu) menunggumu aku tetap menunggumu Source: http://liriklaguindonesia.net/j/judika/judika-setengah-mati-merindu/#ixzz1ZnIRDxpA

Minggu, 18 September 2011

Selasa, 16 Agustus 2011

Saat Kau Tak Disini

NI lagu awalnya terdengar biasa aja... tapi lama kelamaan asik juga, bukan berarti buat siapa-siapa tapi yang jelas, lagu ini pernah gue banget..... LDR gtu...

Seperti bintang-bintang

Hilang ditelan malam

Bagai harus melangkah

Tanpa ku tahu arah

Lepaskan aku dari

Derita tak bertepi

Saat kau tak disini

[*]

Seperti dedaunan

Berjatuhan di taman

Bagaikan debur ombak

Mampu pecahkan karang

Lepaskan aku dari

Derita tak berakhir

Saat kau tak ada disini

[**]

Saat kau tak ada

Atau kau tak disini

Terpenjara sepi

Ku nikmati sendiri

[***]

Tak terhitung waktu

‘tuk melupakanmu

Aku tak pernah bisa

Aku tak pernah bisa

Back to [*][**][***]

Back to [**][***]

Saat kau tak ada

Atau kau tak disini

Terpenjara sepi

Back to [***]

http://akhza.com/liriklagu

Seperti bintang-bintang

Hilang ditelan malam

Jumat, 06 Mei 2011

mengenang lentera hati

Lama tak mengenangmu sang lentera hati, apa kabarmu hari ini?
Sosokmu tak mungkin pergi dalam benakku, sosokmu tetap di kalbu.
Walau tak mungkin lagi ku miliki, tak jenuh aku mengenangmu.
Lentera hati kaulah cahaya dalam kalbuku walau kini tlah redup.
***
Mungkin kau masih kecewa, atau bahkan sudah kau hapus semua kenangan indah kita. Tapi kini ku tepati janjiku padamu, itu alasanku kenapa masih sendiri. Apakah kau juga akan tepati janjimu padaku?
Lentera hati aku lama tak melihat senyumu, senyum yang sama selama dua setengah tahun ini. Dan kini tak ada senyum itu lagi untukku.
Dirimu terlalu angkuh saat ini seperti tak mau mengenalku lagi. Apakah ada salah yang tak bisa kau maafkan hingga kau tak mau tersenyum lagi padaku?
Lentera hati….. ingatkah masa-masa dimana kita selalu bersama… menyambut pagi dan menghantarkan senja. Saat hujan turun dan kau nampak kedinginan, aku masih disisimu. Saat kita berdua di depan kelas dimana kampus masih sepi dan kita belajar bersama. Saat kita janjian bertemu pukul sebelas di ruang baca dan teman-temanku mengusik kita. Saat kita selalu pulang kuliah bersama. Saat pertama kali kita bertemu kau menghantarkan ku pulang setelah buka puasa bersama. Saat kau selalu mengirim pesan kepadaku dan kau katakan alasanmu masih sendiri. Saat kau duduk dihadapanku dan kau mengatakan vegetarian adalah orang terbodoh sedunia, dan kau sudah merusak pola dietku saat itu. Saat aku tahu akulah orang pertama yang kau sms setiba kau di Yogya sedari kau pergi jauh. Saat kau marah waktu aku menayakan tentang nikah siri dan menanyakan apakah aku akan menikah siri? (apa maksudmu). Saat kau cemburu waktu ku menanyakan temanmu, dank au bilang kamu suka ya ama dia?( sebenarnya ingin ku jawab “tidak, aku hanya suka kamu”). Saat aku harus sendiri dan menantimu.
Dan masih banyak saat-saat manis antara kita yang tak dapat kutuliskan. Aku hanya ingin menyimpanya untukmu.

***
Lentera hati, aku tak mengerti dirimu saat ini. Apakah menjalin “hubungan” dengan lawan jenis menurutmu tabu? Entah prinsip hidupmu memang begini? Atau ada alasan yang lain yang tak ku mengerti? Mengapa kau berubah padaku?
Alasanku masih sendiri saat ini ku rasa kau tahu. Semoga kau menepati janji diakhir kisah ini.